Menuju Kapitel 2015


Ordo Karmel Indonesia akan merayakan persaudaraan dalam wadah Kapitel yang diselenggarakab tiga tahunan. Tahun 2015 sudah mendekat. Persiapan juga sedang dilakukan. Menyambut pesta persaudaraan dalam pertemuan Kapitel itu, ada beberapa tema penting yang perlu dibahas guna meningkatkan penghayatan spiritualitas para karmelit Indonesia dan penekanan bentuk serta mutu pelayanan yang lebih menjawabi kebutuhan umat.

Baik kalau kita menyambutnya dengan antusias. Para pengunjung terkasih dapat menyampaikan ide-ide Anda, pun evaluasi kepribadian dan pelayanan kami para karmelit. Silakan mengunjungi website dan mengirimkan komentar atau harapan-harapannya atas kehadiran para karmelit. Anda dapat mengunjungi website dan kirimkan via email yang ditujukan ke sekretaris ordo karmel.

Atau bila kesulitan berkunjung ke website dapat dikirim melalui saya.

Iklan

Pertemuan Regional Frater Student se- Asia-Australia-Oceana


Hari ini telah berakhir pertemuan para frater Ordo Karmel yang berada di wilayah Asia, Australia, Oceana. Para frater yang masih belajar Filsafat dan Teologi ini sejak 4 April 2013 lalu telah berkumpul sebagai saudara.

image

Lagi

Jalan Spiritual untuk Pelestarian Lingkungan Hidup


The Earth seen from Apollo 17.

The Earth seen from Apollo 17. (Photo credit: Wikipedia)

Panggilan Karmel kepada kontemplasi adalah perjalanan spiritual yang dapat membawa kita kepada kedewasaan diri dan menata kembali keinginan manusiawi kita. Perjalanan ini membawa kesembuhan bagi diri kita sendiri maupun kepada bumi kita. Kita perlu meninggalkan keyakinan kita bahwa kepuasan hanya dapat diperoleh melalui mengumpulkan barang-barang material. Dengan demikian kita akan mampu untuk membebaskan bumi kita dari kewajibannya untuk memuaskan keinginan kita untuk mendapatkan lebih dan lebih lagi. Hal ini tentu tidak mudah karena kita pertama-tama perlu mengakui bahwa keinginan kita tidak akan dapat dipenuhi oleh materi. Apabila kita mau membuka diri untuk mengalami kasih Allah, kita akan terbantu untuk kembali ke gaya hidup yang sederhana. Kita perlu belajar bahwa keinginan tidak selalu harus dipuaskan.

Jalan kontemplasi akan mengubah diri kita melalui doa, komunitas dan pelayanan. Kesembuhan tidak hanya akan dialami oleh diri kita, tetapi juga oleh komunitas dan bumi kita. Jalan ini akan membantu kita untuk memahami bahwa:

  • Hanya beberapa hal yang benar-benar penting untuk kehidupan kita.
  • Sedikit seringkali sudah cukup.
  • Ketidakpuasan adalah bagian dari kehidupan.
  • Keinginan dan aspirasi manusia sifatnya tak terbatas karena mereka ada hanya untuk dipuaskan oleh Allah sendiri.

Apabila kita enggan mengatur keinginan tak terbatas kita, kita pasti akan mengalami kehancuran. Benacana ekologi tampaknya tidak akan terelakkan apabila kita terus menutup mata akan dimensi ilahi dari realitas ini. Kinilah saatnya bagi kita untuk berkontemplasi: kita menyadari bahwa semua keinginan kita sebenarnya adalah perwujudan dari keinginan kita yang mendalam akan Allah.

Dalam tatanan masyarakat, kita perlu mengakui bahwa tindakan lokal kita memiliki dampak global. Oleh karena itu kita perlu segera mengubah pola hidup kita. Kita harus mengembangkan tata ekonomi baru yang dilandaskan pada apa yang sungguh kita butuhkan, dan bukannya sekedar memenuhi keinginan kita yang tak terbatas. Kita juga harus membantu sesama kita agar sadar akan perlunya mempertahankan kualitas hidup seluruh ciptaan karena Allah telah mendandani semua orang dan segala sesuatu dengan keindahan yang mencerminkan keindahan Sang Pencipta.

Sumber: carmelitengo.org

Enhanced by Zemanta

Doa Persiapan Kapitel Ordo Karmel Indonesia


Kapitel ini adalah rapat Ordo se – Provinsi yang diselenggarakan 3 tahun sekali. Dalam rapat ini akan dievaluasi perjalanan kehidupan Ordo dan akan memutuskan kebijakan-kebijakan untuk 3 tahun mendatang. Mohon dukungan doa dari para Saudara sekalian. Berikut doanya:

Karmelit: Pertapa atau Pendoa?


El Karmel, Haifa

El Karmel, Haifa (Photo credit: Ioreth_ni_Balor)

Kalau ada pertanyaan dengan kata penghubung “atau” biasanya kita membuat jawaban “Ya, kedua-duanya”. Hahaha.., itu jugalah jawaban untuk pertanyaan tersebut. Akan tetapi, karmelit jaman ini sudah mengalami perubahan. Kapan berubahnya? Kiranya sudah sangat lama. Bahkan sejak para karmelit pertama hengkang dari Gunung Karmel dan tinggal di daratan Eropa. Berubah dari apa? Dari seorang pertapa menjadi seorang pendoa. Maka, kini seorang karmelit memilih bentuk kehidupan pertama-tama sebagai pendoa. Bila ada di antara mereka yang tertarik hidup bertapa, seorang karmelit barulah disebut pertapa.

Nah, pertanyaannya lalu: “Apa itu hidup sebagai pertapa?” dan “Apa itu hidup sebagai pendoa?”

1. Hidup sebagai pertapa. Bapa inspirator para karmelit adalah Nabi Elia, Sang Pertapa. Nabi Elia tinggal bertapa di Gunung Karmel. Oleh karena itu, seorang karmelit adalah seorang pertapa. Seorang pertapa akan tinggal di pertapaan. Seorang pertapa yang berada di luar pertapaan disebut sedang turun gunung dan itu hanya sementara sifatnya, sedangkan yang tetap adalah di pertapaannya. Di dalam pertapaan inilah seorang pertapa memiliki kehidupan yang unik, baik dari segi situasi, aturan, atau acaranya (punya dinamika hidup yang kadang bisa disebut ‘aneh’). Mereka hidup sepenuhnya di hadirat Tuhan, seperti halnya Nabi Elia. Dikatakan unik, juga karena mungkin sungguh berbeda dari hidup membiara seperti sekarang yang kadang disibukkan dengan berbagai bentuk pelayanan baik pastoral parokial maupun kategorial. Unik,  apalagi karena jauh dari cara hidup pada umumnya. Mau tahu seperti apa kehidupan seorang pertapa lebih dekat dan lebih mendalam? Hidup seorang pertapa disebut hidup monastik. Ah, kapan-kapan saya jelaskan secara sederhana. Untuk sementara, silakan kunjungi blog ini dulu ya.

2. Hidup sebagai pendoa. Bunda Maria adalah seorang pendoa. Ia mendengarkan Sabda dan melaksanakan

Chile

Chile (Photo credit: Wikipedia)

kehendak Allah. Bagi seorang karmelit, Bunda Maria adalah juga Saudari dan inspiratornya. Oleh karena meneladan hidup Maria, seorang karmelit sebagai seorang pendoa juga. Salah satunya bahwa seorang pendoa tidak harus berada di tempat tertentu. Ini yang sedikit membedakan dengan pertapa. Seorang pendoa dapat berada dimanapun, kapanpun dan kemanapun dia pergi. Karena seorang pendoa tidak hanya berdoa tetapi melaksankan kehendak dan rencana Allah. Maka, seorang karmelit sekarang lebih suka dan tepat disebut sebagai pendoa, bukan pertapa. Meskipun tidak menutup kemungkinan ada seorang karmelit yang menjadi pertapa. Dengan menjadi pendoa, seorang karmelit tetap bisa melakukan berbagai bentuk pelayanan dan doa menjadi dasar dari seluruh tugas karyanya. Sehingga, bukan ora et labora tetapi ora in labora. Betapapun sibuknya, seorang karmelit tidak meninggalkan hidup doanya. Justru bekerja sebagai bagian dari hidup doanya. Maka, bila kita ingin mengetahui sejauh mana hidup doa mereka, kita dapat memeriksa bagaimana mereka bekerja. Entah tentang kerjasamanya (persaudaraan), kualitasnya dan motivasinya dapat kita periksa dan amati. Sebagai pendoa, seorang karmelit dengan sendirinya akan meluangkan banyak waktu untuk berdoa bersama (berkomunitas), disamping doa pribadi. Oleh karena itulah, dalam Regula (=Aturan Dasar Karmel) dikatakan bahwa kapel/ruang doa berada di tengah-tengah dari pondok-pondoknya. Sehingga, doa dan Ekaristi menjadi pusat dan sumber dari hidup mereka. Lebih lanjut tentang karmelit sebagai pendoa dapat disimak dalam blog ini atau dapat dibaca di buku ini atau buku ini.

Enhanced by Zemanta

Previous Older Entries

Twitter Terbaru

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
%d blogger menyukai ini: