Berdialog dengan Tuhan


Chinese depiction of Jesus and the rich man (M...

Chinese depiction of Jesus and the rich man (Mark 10) – 1879, Beijing, China (Photo credit: Wikipedia)

Berdialog dengan Tuhan sebagian besar mengatakan bahwa itu adalah doa. Sayangnya, dalam kenyataan, orang cenderung bukannya dialog tetapi monolog, yakni kita menyampaikan banyak kata-kata kepada Tuhan. Apakah ini juga bisa disebut doa? Tentu bisa. Tetapi doa yang baik, bila mengikuti pengertian itu, maka haruslah kita juga mau mendengarkan apa yang dikatakan Tuhan kepada kita.

Ketika kita mengambil rumusan doa dan kita ucapkan dengan penuh iman, kita sedang dalam kesadaran bahwa Tuhan sedang mendengarkannya. Bagi mereka yang tidak mempercayai adanya Tuhan tentu berkata lain.

To be continue….

Enhanced by Zemanta
Iklan

6 Komentar (+add yours?)

  1. nikolausyosepkolaus
    Jun 23, 2011 @ 16:26:12

    blog baru ya Mo…saya tunggu cerita inspiratif lainnya…

    Balas

    • iamcarmelite
      Jun 24, 2011 @ 09:38:06

      Saya mungkin tidak banyak bercerita, tetapi mencoba menunangkan pemikiran di blog sendiri. Pernah saya buat di Blogger. Tapi lalu lama tidak log in jadi lupa password. Tapi, sedang saya coba untuk aktifkan lagi. Saya juga tunggu cerita inspiratif dari para sahabat sekalian ….

      Balas

  2. andhikaalexander
    Jun 24, 2011 @ 00:10:04

    Hi Romo…salam kenal, saya Andhika Alexander.
    Senang sekali ketika kita berbicara tentang DOA…
    banyak sekali definisi-definisi baik definisi logis ataupun intepretasi masing-masing orang perihal DOA.

    benar apa yang dikatakan romo, ketika kita berdoa apakah kita berdialog dengan Tuhan atau monolog dengan diri sendiri?

    hmm, menurut saya pribadi, ketika kita berdoa, apapun itu, monolog maupun dialog, ketika kita menyadari, “ohhh, sekarang aku sedang bercakap denganNya meskipun aku tidak mendengar balasannya, aku harus fokus.” dan menurutku, imanlah yang membawa kita sampai ke tahap penyadaran kita memang tidak secara langsung berkomunikasi dengan Tuhan, tapi, imanlah yang menjadi “handphone” kita ke Tuhan…

    salam

    http://www.andhikaalexander.wordpress.com^^

    Balas

    • iamcarmelite
      Jun 24, 2011 @ 09:33:40

      Syalom, Andhika.
      Wah, pendapatmu sangat bagus. Tentang berdoa ini kata “fokus” pada umumnya berhubungan atau disinonimkan dengan “konsentrasi”. Padahal istilah “konsentrasi” itu masuk dalam ranah akal budi atau pikiran. Sedangkan kamu sudah meninggalkan makna “fokus” menjadi lain, yakni “iman”. Saya setuju bahwa imanlah yang membawa kita sampai ke tahap penyadaran (=fokus) kita dalam berkomunikasi (=berdialog) dengan Tuhan.

      Balas

      • andhikaalexander
        Jul 08, 2011 @ 23:31:15

        hehe…yap, Iman bagaikan perahu atau kapal yang akan membawa kita dari dermaga duniawi menuju dermaga dimana Tuhan akan melambaikan tangan kepada kita.
        Yang menjadi pertanyaan Romo, bagaimana, dan apa yang harus kita lakukan ketika suatu saat, doa dengan entah apakah perantaraan iman atau apapun itu menjadi suatu daily activities dalam arti negatif. kebiasaan saja…contoh konkrit, yasudah, saya bagnun pagu, doa pagi, dengan format ucap syukur moh berkat untuk hari ini, doa malam, ucapan syukur, mohn ampun, mohon perlindungan untuk malam…dst dst…

        apa yang dapat kita lkukan ketika doa menjadi hal yang terformat di hidup kita mo??bukankah kita kehilangan esensi komunikasi dengan Tuhan sendiri?

      • iamcarmelite
        Jul 16, 2011 @ 09:17:53

        Doa itu banyak ragamnya:
        (1) Doa Pribadi dan Doa Bersama
        (2) Doa Devosi dan Doa Lirturgis
        (3) Doa Sakramental dan Sakramentali
        (4) Doa Kata-kata dan Doa Hening
        (5) Doa Diskursif dan Doa Meditatif/Kontemplatif
        dsb.
        Doa tertinggi adalah Doa Kontemplatif. Itu pun terjadi karena anugerah. Orang perlu merindukannya untuk sampai pada tingkat doa yang tertinggi itu.
        Seringkali orang berhenti pada doa yang diskursif: entah yang pribadi maupun bersama, entah devosi ataupun liturgis semata, entah dengan banyak kata ataupun hening dan meditasi. Sehingga muncul rasa bosan atau mengurangi esensi komunikasi dengan Tuhan. Maka, sesungguhnya kita memerlukan karunia doa. Sebab berdoa itu sendiri adalah karunia, yakni dari Roh Kudus yang mau tinggal di hati kita. Paulus pernah berkata dalam Rm 8:15: ….”kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!”” juga dalam Gal 4:6 “Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “ya Abba, ya Bapa!””

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Twitter Terbaru

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
%d blogger menyukai ini: